Skip to content
Santekno.com | Level Up Your Engineering Skills
ID
Audio Diperbarui 14 Mei 2025

10 Headset Gaming Surround Sound Terbaik 2025 – Audio Gaming Paling Jernih!

23 mnt baca Kurasi riset & review pengguna

Angka 7.1 di kotak headset gaming murah hampir selalu berarti pemrosesan perangkat lunak atas dua driver stereo, bukan tujuh speaker di tiap sisi telinga.

Itu bukan penipuan, tapi ia menggeser tempat uangmu seharusnya jatuh. Yang benar-benar membuatmu bisa menebak arah langkah musuh adalah soundstage — seberapa lebar dan terpisah suara terdengar — dan kualitas driver stereo yang mengeluarkannya. Pemrosesan surround yang ditumpuk di atas driver sempit sering justru mengaburkan rentang tengah, tempat suara langkah dan gesekan pakaian hidup.

Hal kedua yang sering salah dinilai adalah mikrofonnya. Mikrofon headset gaming diukur dari kejernihan di sisi lawan bicara, bukan dari apa yang kamu dengar sendiri lewat sidetone. Sidetone yang tebal terasa meyakinkan di telingamu dan sama sekali tidak memberi tahu apa yang sampai ke rekan setim.

Sepuluh pilihan di bawah disusun di atas dua kenyataan itu, dari kelas anggaran sampai kelas atas. Hanya satu di antaranya yang benar-benar membawa kartu suara sendiri; sembilan sisanya menyerahkan surround ke perangkat lunak, dan itu memang tempat yang benar untuknya.

Fantech Sonata MH90 Gaming Headset Rexus Thundervox HX9 Gaming Headset 7.1 Redragon Zeus H510 LIT Gaming Headset HyperX Cloud Stinger 2 Core Gaming Headset HyperX Cloud Alpha 2 Wireless Gaming Headset Logitech G Pro X 2 Lightspeed Wireless Gaming Headset
Foto produk dari listing Shopee yang ditautkan artikel ini.
Fantech Sonata MH90 Gaming Headset
Jack 3,5mm yang jalan di mana saja, dengan kontrol volume dan mute di kabelnya
Rp600rb – Rp699rb Cek harga
Rexus Thundervox HX9 Gaming Headset 7.1
Bantalan besar untuk sesi panjang di anggaran paling bawah
Rp250rb – Rp299rb Cek harga
Redragon Zeus H510 LIT Gaming Headset
Varian LIT yang ringan dan berkabel, driver 53mm tanpa jalur USB maupun nirkabel
Rp450rb – Rp499rb Cek harga
HyperX Cloud Stinger 2 Core Gaming Headset
Paling ringan di kelas menengah bawah, dan itu yang paling terasa
Rp600rb – Rp699rb Cek harga
HyperX Cloud Alpha 2 Wireless Gaming Headset
Nirkabel 2,4GHz yang melewati jack sepenuhnya, dengan harga yang sudah kelas atas
Rp4,5jt – Rp5jt Cek harga
Logitech G Pro X 2 Lightspeed Wireless Gaming Headset
Wireless 2.4GHz dengan pemrosesan mikrofon yang bisa diatur sebelum suaramu keluar
Rp3jt – Rp3,5jt Cek harga
Razer BlackShark V2 Pro Wireless Gaming Headset
Soundstage yang lebar dan bantalan kain, dibuat untuk menempatkan arah suara
Rp4jt – Rp4,5jt Cek harga
ASUS ROG Delta S Core Gaming Headset
Delta tanpa DAC dan tanpa lampu, dicolok ke apa saja lewat jack 3,5mm
Rp1,6jt – Rp1,7jt Cek harga
Sony INZONE H9 II Wireless Noise Cancelling Gaming Headset
Satu-satunya di daftar ini yang menyelesaikan ruangan berisik, bukan cuma arah suara
Rp5jt – Rp5,5jt Cek harga
SteelSeries Arctis Nova Pro Wireless Gaming Headset
Puncak daftar ini, dengan baterai cadangan yang bisa ditukar tanpa berhenti main
Rp7jt – Rp7,5jt Cek harga

Harga diverifikasi 3 September 2026. Seluruh tautan produk lewat /go/ supaya bisa diganti tanpa menyunting artikel.

Cara memilih

Perlakukan angka 7.1 sebagai fitur software

Selama harganya masuk akal, headsetnya punya dua driver. Angka surround adalah nama untuk pemrosesan yang mengolah dua driver itu. Karena itu, pertanyaan yang benar bukan berapa angkanya, melainkan seberapa baik driver stereonya sebelum pemrosesan dinyalakan.

Uji cepatnya: mainkan satu ronde dengan mode surround menyala, lalu satu ronde dengan mode itu mati. Kalau arah langkah lebih mudah ditebak saat mati, drivernya sedang tertutup pemrosesan.

Tentukan sambungannya lebih dulu

USB membawa konverternya sendiri dan mengunci headset ke perangkat yang punya port itu. Jack 3,5mm bekerja di mana saja tapi kualitasnya ikut ditentukan sumbernya. Wireless 2,4GHz lewat dongle memberi kebebasan gerak dengan latensi yang tidak terasa, sedangkan Bluetooth selalu punya jeda yang terasa dalam permainan cepat.

Tulis dulu daftar perangkat yang akan memakainya, baru pilih sambungannya.

Ukur kepalamu dan lama sesimu, bukan bobot di brosur

Tekanan headband dan jenis bantalan menentukan lama pemakaian lebih dari bobot totalnya. Bantalan kulit sintetis mengisolasi lebih baik tapi menahan panas; bantalan kain lebih adem tapi meloloskan lebih banyak suara ruangan.

Kalau kamu memakai kacamata, tekanan yang kencang akan terasa di pelipis jauh sebelum telingamu lelah.

Nilai mikrofonnya dari rekaman, bukan dari sidetone

Rekam satu menit suaramu lewat perekam suara bawaan sistem, lalu dengarkan lewat speaker, bukan lewat headsetnya. Itu mendekati apa yang didengar lawan bicara. Fitur yang benar-benar mengubah hasilnya adalah gate dan kompresor di sisi software, bukan besarnya sidetone.

Cocokkan dengan platform, bukan dengan logo

Headset USB-only tidak berguna di konsol yang menuntut jalur lain, dan pemrosesan surround milik merek tertentu hampir selalu hanya aktif lewat aplikasinya di PC. Di konsol, headset yang sama sering kembali menjadi headset stereo biasa.

Sepuluh pilihan

Fantech Sonata MH90 Gaming Headset

Jack 3,5mm yang jalan di mana saja, dengan kontrol volume dan mute di kabelnya 3.5mmKontrol in-lineMikrofon lepas-pasang
Fantech Sonata MH90 Gaming Headset

Yang dibeli di sini bukan kartu suara di dalam headsetnya, melainkan satu kabel yang jalan di semua perangkat plus kontrol yang bisa diraih tanpa melepas tangan.

Sonata MH90 menyambung lewat jack 3,5mm, bukan USB. Konsekuensinya langsung: tidak ada pemrosesan surround di dalam headsetnya, dan spasialisasi diserahkan sepenuhnya ke sisi perangkat lunak — Windows Sonic di PC, atau pengaturan setara di konsol. Pemisahan itu sama dengan yang dipakai HyperX Cloud Stinger 2 Core di daftar ini, dan ia jujur: surround memang pemrosesan, dan menaruhnya di sistem operasi berarti headsetnya tetap berfungsi penuh di konsol, ponsel, atau konsol genggam.

Yang membedakannya dari headset 3,5mm lain di daftar ini ada di kabelnya. Kontrol volume dan mute duduk di jalur kabel, jadi mematikan mikrofon di tengah ronde tidak menuntut membuka aplikasi atau mencari tombol di earcup. Paketnya juga menyertakan splitter, yang menyelesaikan masalah kecil tapi sering muncul: PC dengan lubang mikrofon dan headphone terpisah. Boom mic-nya lepas-pasang, jadi headset yang sama bisa dipakai di luar permainan tanpa batang mikrofon menonjol di depan mulut.

Yang dikorbankan: harganya. Di antara headset murah di daftar ini, Sonata MH90 duduk sejajar dengan HyperX Cloud Stinger 2 Core dan jauh di atas Rexus Thundervox HX9 — ia bukan pintu masuk termurah. Tanpa konverter di dalamnya, kualitas keluarannya juga ikut ditentukan jack di perangkatmu.

Yang perlu kamu periksa: colok ke jack belakang motherboard, bukan jack depan casing, lalu dengarkan saat tidak ada suara apa pun. Kalau ada desis, masalahnya di sumber, bukan di headsetnya. Kalau kamu memang hanya bermain di PC dan ingin membayar paling sedikit, Rexus Thundervox HX9 di daftar ini jauh lebih murah.

Kelebihan
  • Jack 3,5mm bekerja di PC, konsol, dan ponsel tanpa adaptor
  • Kontrol volume dan mute ada di kabel, bukan di dalam aplikasi
  • Boom mic-nya bisa dilepas saat headset dipakai di luar permainan
  • Splitter bawaannya menutup PC yang lubang mikrofon dan headphone-nya terpisah
Kekurangan
  • Tidak ada pemrosesan surround di headsetnya; spasialisasi harus datang dari sistem operasi
  • Harganya sejajar HyperX Cloud Stinger 2 Core dan jauh di atas Rexus Thundervox HX9
  • Tanpa konverter bawaan, kualitas keluaran ikut ditentukan jack di perangkatmu
Fantech Sonata MH90 Gaming Headset
Kisaran Rp600rb – Rp699rb 4.91 1,000 terjual Toko official
Cek harga di Shopee Harga per 7 September 2026, dapat berubah.

Rexus Thundervox HX9 Gaming Headset 7.1

Bantalan besar untuk sesi panjang di anggaran paling bawah USBVirtual 7.1Earcup besar
Rexus Thundervox HX9 Gaming Headset 7.1

Di kelas ini, kenyamanan lebih sering menentukan lama bermain daripada kualitas suaranya.

Thundervox HX9 menjual dua hal yang benar-benar terasa di anggaran terbawah: earcup yang cukup besar untuk menutupi daun telinga, dan headband berlapis yang membagi bebannya. Surround virtual lewat USB ada di sini seperti pada hampir semua headset sekelasnya, dengan sifat yang sama: ia efek pemrosesan, bukan tambahan driver.

Yang dikorbankan: bobot. Konstruksi plastik dengan bantalan tebal membuat headset kelas ini lebih berat daripada headset mahal yang justru lebih ringan, dan berat itulah yang biasanya terasa lebih dulu daripada kualitas suaranya setelah dua jam. Bantalan kulit sintetisnya juga menahan panas, yang di ruangan tanpa pendingin berubah jadi alasan melepas headset.

Yang perlu kamu ukur: berapa lama sesi bermainmu yang sebenarnya. Untuk sesi di bawah satu jam, bobot tidak jadi masalah dan ini pilihan yang masuk akal. Untuk sesi panjang harian, selisih harganya ke HyperX Cloud Stinger 2 Core terbayar oleh bobot yang lebih rendah.

Kelebihan
  • Earcup cukup besar untuk menutupi daun telinga, bukan menekannya
  • Headband berlapis membagi beban, bukan menumpuk di satu titik
  • Surround virtual lewat USB sudah termasuk di anggaran terbawah
Kekurangan
  • Plastik dengan bantalan tebal membuatnya lebih berat daripada headset mahal
  • Bobotnya terasa lebih dulu daripada kualitas suaranya setelah dua jam
  • Bantalan kulit sintetisnya menahan panas di ruangan tanpa pendingin
  • Angka 7.1-nya efek pemrosesan, bukan tambahan driver
Rexus Thundervox HX9 Gaming Headset 7.1
Kisaran Rp250rb – Rp299rb 4.89 8,000 terjual Toko official
Cek harga di Shopee Harga per 3 September 2026, dapat berubah.

Redragon Zeus H510 LIT Gaming Headset

Varian LIT yang ringan dan berkabel, driver 53mm tanpa jalur USB maupun nirkabel 3.5mmDriver 53mmMikrofon lepas-pasangGaransi 2 tahun
Redragon Zeus H510 LIT Gaming Headset

Varian LIT melepas jalur USB dan nirkabelnya; yang tersisa adalah driver 53mm di bodi ringan dengan jack yang bekerja di mana saja.

Zeus H510 LIT adalah varian ringan dan berkabel dari Zeus H510: driver 53mm, sambungan jack 3,5mm, dan boom mic yang bisa dilepas. Driver sebesar itu tidak umum di rentang harga ini, dan bobot bodinya yang rendah adalah hal yang paling terasa setelah dua jam — lebih dulu daripada perbedaan kualitas suara.

Yang tidak dibawa varian ini: jalur USB dan mode nirkabelnya. Tidak ada kartu suara di dalam headsetnya, jadi surround harus datang dari sisi perangkat lunak — Windows Sonic di PC atau pengaturan setara di konsol — persis seperti HyperX Cloud Stinger 2 Core di daftar ini. Itu bukan kekurangan mutlak: spasialisasi memang pemrosesan, dan menyerahkannya ke sistem operasi membuat headsetnya tetap berfungsi penuh di konsol dan ponsel. Yang benar-benar hilang adalah kebebasan bergerak, dan itu ada di varian H510 yang lebih mahal.

Yang dikorbankan selain itu: tanpa konverter bawaan, kualitas keluaran ikut ditentukan jack di perangkatmu, dan konektor mik lepas-pasang adalah satu titik sambung tambahan yang bisa longgar setelah ratusan kali dipasang. Garansi resmi dua tahunnya sedikit menyeimbangkan hal itu.

Yang perlu kamu putuskan: kabel atau kebebasan. Kalau kamu duduk di depan PC yang sama setiap hari, kabel 3,5mm bukan masalah dan driver 53mm-nya adalah nilai yang jarang di harga ini. Kalau kamu ingin lepas dari kabel, HyperX Cloud Alpha 2 Wireless di daftar ini menyelesaikan itu dengan harga berlipat.

Kelebihan
  • Driver 53mm, lebih besar daripada kebanyakan headset di rentang harga ini
  • Bodinya ringan, dan bobot itu yang paling terasa setelah dua jam
  • Jack 3,5mm bekerja di PC, konsol, dan ponsel tanpa adaptor
  • Garansi resmi dua tahun, panjang untuk kelas harganya
Kekurangan
  • Varian LIT tidak membawa jalur USB, jadi tidak ada pemrosesan surround di headsetnya
  • Berkabel saja; kebebasan bergerak ada di varian H510 yang lebih mahal
  • Tanpa konverter bawaan, kualitas keluaran ikut ditentukan jack di perangkatmu
  • Konektor mik lepas-pasang menambah satu titik sambung yang bisa longgar
Redragon Zeus H510 LIT Gaming Headset
Kisaran Rp450rb – Rp499rb 4.84 84 terjual Toko official
Cek harga di Shopee Harga per 7 September 2026, dapat berubah.

HyperX Cloud Stinger 2 Core Gaming Headset

Paling ringan di kelas menengah bawah, dan itu yang paling terasa 3.5mmVarian CoreBobot rendah
HyperX Cloud Stinger 2 Core Gaming Headset

Yang dibeli di sini bukan angka surround melainkan bobot rendah dan bantalan yang tidak menyiksa setelah tiga jam.

Cloud Stinger 2 Core adalah versi yang dipangkas dari Cloud Stinger 2: sambungan 3,5mm biasa, tanpa kartu suara bawaan, dan urusan surround diserahkan sepenuhnya ke perangkat lunak di sisi PC. Pemisahan itu jujur: spatial audio memang pemrosesan, dan menaruhnya di software berarti headsetnya tetap berfungsi penuh di konsol, ponsel, atau apa pun yang punya lubang jack.

Yang dikorbankan: tanpa konverter di dalamnya, kualitas keluaran ikut ditentukan oleh jack di perangkatmu. Motherboard lama dengan jack depan casing yang berisik akan terdengar sebagai desis pelan di belakang suara, dan itu bukan salah headsetnya. Karena ini varian Core, jangan berasumsi paket software surround bawaannya ikut — perlakukan pemrosesan spasial sebagai urusan sistem operasimu. Bantalan kulit sintetisnya juga menahan panas seperti kebanyakan headset tertutup.

Yang perlu kamu periksa: colok ke jack belakang motherboard, bukan jack depan casing, lalu dengarkan saat tidak ada suara apa pun. Kalau ada desis, masalahnya di sumber. Untuk melewati jack sepenuhnya, HyperX Cloud Alpha 2 Wireless di daftar ini memakai dongle 2,4GHz sehingga sinyalnya tidak pernah lewat sana.

Kelebihan
  • Bobot paling rendah di kelasnya, dan itu yang paling terasa setelah tiga jam
  • Jack 3,5mm biasa, tetap berfungsi penuh di konsol dan ponsel
  • Surround diserahkan ke software, jadi headsetnya tidak lumpuh saat pindah perangkat
Kekurangan
  • Tidak ada kartu suara bawaan; kualitas keluaran ikut ditentukan jack perangkatmu
  • Jack depan casing yang berisik terdengar sebagai desis pelan di belakang suara
  • Varian Core adalah versi yang dipangkas, bukan paket lengkap Stinger 2
  • Bantalan kulit sintetisnya menahan panas seperti kebanyakan headset tertutup
HyperX Cloud Stinger 2 Core Gaming Headset
Kisaran Rp600rb – Rp699rb 5 40 terjual Toko pilihan
Cek harga di Shopee Harga per 4 September 2026, dapat berubah.

HyperX Cloud Alpha 2 Wireless Gaming Headset

Nirkabel 2,4GHz yang melewati jack sepenuhnya, dengan harga yang sudah kelas atas Wireless 2.4GHzDongleTanpa kabel ke jack
HyperX Cloud Alpha 2 Wireless Gaming Headset

Dongle 2,4GHz-nya memindahkan seluruh rantai audio keluar dari jack motherboard, dan itu perbedaan terbesarnya dari versi berkabel.

Cloud Alpha 2 Wireless menyambung lewat dongle 2,4GHz, bukan kabel dan bukan Bluetooth. Konsekuensinya langsung: sinyalnya tidak pernah melewati jack di perangkatmu, jadi desis dari jack depan casing yang mengganggu headset 3,5mm di daftar ini tidak punya jalan masuk. Latensi dongle juga tidak terasa dalam permainan, tidak seperti Bluetooth.

Yang berubah dibanding versi berkabel: tidak ada kotak kontrol USB dan tidak ada slider bass fisik di earcup. Pengaturan karakter suara dan mode surround pindah ke aplikasi di PC. Itu terasa karena bass berlebih adalah alasan paling umum jejak langkah jadi sulit ditempatkan — suara langkah hidup di rentang tengah, dan dentuman yang terlalu besar menutupinya. Menurunkannya kini butuh membuka aplikasi, bukan menggeser tuas.

Yang dikorbankan selain itu: baterai menambah satu kebiasaan baru, dongle memakan satu port USB dan mudah tertinggal saat kamu berpindah perangkat, dan harganya sudah naik ke kelas atas daftar ini. Yang perlu kamu periksa: apakah kebebasan tanpa kabel memang yang kamu cari. Kalau kamu tetap duduk di depan PC yang sama setiap hari, HyperX Cloud Stinger 2 Core di daftar ini memberi kenyamanan yang sebanding dengan selisih harga yang besar.

Kelebihan
  • Dongle 2,4GHz melewati jack motherboard, jadi desis dari sumber tidak punya jalan masuk
  • Latensinya tidak terasa dalam permainan, tidak seperti Bluetooth
  • Tidak ada kabel yang tersangkut maupun kotak kontrol yang menggantung di meja
Kekurangan
  • Tanpa slider bass fisik, pengaturan karakter suara pindah ke aplikasi di PC
  • Harganya sudah naik ke kelas atas daftar ini, bukan kelas menengah lagi
  • Baterainya menambah kebiasaan mengisi daya sebelum sesi panjang
  • Dongle memakan satu port USB dan mudah tertinggal saat berpindah perangkat
HyperX Cloud Alpha 2 Wireless Gaming Headset
Kisaran Rp4,5jt – Rp5jt 5 18 terjual Toko pilihan
Cek harga di Shopee Harga per 4 September 2026, dapat berubah.

Logitech G Pro X 2 Lightspeed Wireless Gaming Headset

Wireless 2.4GHz dengan pemrosesan mikrofon yang bisa diatur sebelum suaramu keluar Wireless 2.4GHzDTS Headphone:X 2.0Blue VO!CE
Logitech G Pro X 2 Lightspeed Wireless Gaming Headset

Mikrofonnya dinilai dari apa yang didengar lawan bicara, dan di sinilah ia paling jelas unggul.

G Pro X 2 Lightspeed memakai sambungan 2,4GHz lewat dongle, bukan Bluetooth, sehingga latensinya tidak terasa dalam permainan. Yang membedakannya dari headset wireless lain di kelas harga sama adalah pemrosesan mikrofon Blue VO!CE: kompresor, gate, dan equalizer yang bekerja pada suaramu sebelum ia dikirim ke rekan setim.

Ini penting karena mikrofon headset gaming diukur dari kejernihan di sisi lawan bicara, bukan dari apa yang kamu dengar sendiri lewat sidetone. Gate yang disetel benar memotong suara kipas dan ketikan di antara kalimat, dan itu perubahan yang hanya bisa dinilai orang lain.

Yang dikorbankan: seluruh keunggulan itu bergantung pada software Logitech di PC. Di konsol, mikrofonnya kembali menjadi mikrofon biasa. Baterainya juga menambah satu kebiasaan baru — mengisi daya sebelum sesi panjang. Yang perlu kamu periksa: apakah perangkat utamamu memang PC. Kalau bukan, keunggulan terbesarnya tidak akan pernah aktif.

Kelebihan
  • Sambungan 2,4GHz lewat dongle, bukan Bluetooth, jadi latensinya tidak terasa
  • Blue VO!CE memproses suaramu sebelum sampai ke rekan setim
  • Gate yang disetel benar memotong suara kipas dan ketikan di antara kalimat
Kekurangan
  • Seluruh keunggulan mikrofonnya bergantung pada software Logitech di PC
  • Di konsol, mikrofonnya kembali menjadi mikrofon biasa
  • Baterainya menambah kebiasaan mengisi daya sebelum sesi panjang
Logitech G Pro X 2 Lightspeed Wireless Gaming Headset
Kisaran Rp3jt – Rp3,5jt 5 16 terjual Toko pilihan
Cek harga di Shopee Harga per 4 September 2026, dapat berubah.

Razer BlackShark V2 Pro Wireless Gaming Headset

Soundstage yang lebar dan bantalan kain, dibuat untuk menempatkan arah suara Wireless 2.4GHzTHX Spatial AudioBantalan kain
Razer BlackShark V2 Pro Wireless Gaming Headset

Bantalan kainnya bukan sekadar soal kenyamanan; ia mengubah cara suara duduk di telinga selama sesi panjang.

BlackShark V2 Pro dirancang di sekitar satu tujuan: menempatkan arah suara. Drivernya disetel dengan rentang tengah yang menonjol, dan THX Spatial Audio menambahkan pemrosesan di atasnya. Perlu ditegaskan bahwa pemrosesan itu tetap virtual — yang membuatnya bekerja lebih baik daripada headset murah adalah driver stereonya yang memang lebih baik lebih dulu.

Bantalan kainnya menahan panas jauh lebih sedikit daripada kulit sintetis, dan di ruangan tanpa pendingin itu sering menjadi perbedaan antara sesi tiga jam dan sesi satu jam.

Yang dikorbankan: bantalan kain meredam sebagian isolasi pasif, jadi suara kipas ruangan dan obrolan di sekitar lebih terdengar dibanding earcup berlapis kulit. Ia juga tidak punya peredam bising aktif. Yang perlu kamu periksa: seberapa berisik ruangan tempat kamu bermain. Kalau ramai dan kamu butuh diam, Sony INZONE H9 II di daftar ini menyelesaikan hal yang berbeda.

Kelebihan
  • Driver disetel dengan rentang tengah menonjol, tempat jejak langkah hidup
  • Driver stereonya sudah baik sebelum pemrosesan spasial dinyalakan
  • Bantalan kain menahan panas jauh lebih sedikit daripada kulit sintetis
Kekurangan
  • Bantalan kain meredam sebagian isolasi pasif, suara ruangan lebih terdengar
  • Tidak punya peredam bising aktif
  • THX Spatial Audio tetap pemrosesan virtual, bukan tambahan driver
Razer BlackShark V2 Pro Wireless Gaming Headset
Kisaran Rp4jt – Rp4,5jt Toko official
Cek harga di Shopee Harga per 3 September 2026, dapat berubah.

ASUS ROG Delta S Core Gaming Headset

Delta tanpa DAC dan tanpa lampu, dicolok ke apa saja lewat jack 3,5mm 3.5mmVarian CoreTanpa RGB
ASUS ROG Delta S Core Gaming Headset

Varian Core melepas DAC dan lampunya, dan yang tersisa justru headset yang lebih mudah dipindah antar perangkat.

ROG Delta S Core adalah versi Delta yang dipangkas: tidak ada konverter digital-ke-analog di dalam headsetnya, tidak ada lampu RGB, dan sambungannya jack 3,5mm biasa — bukan USB-C. Yang tersisa adalah bagian yang paling sering dipakai, yaitu driver, bantalan, dan mikrofonnya, dengan harga jauh di bawah Delta S yang membawa rantai audionya sendiri.

Pelepasan itu punya sisi baik. Jack 3,5mm bekerja di mana saja: PC, konsol, ponsel, konsol genggam, tanpa adaptor dan tanpa perlu bertanya apakah port USB-C perangkatnya benar-benar mengeluarkan audio. Tidak adanya lampu juga berarti tidak ada aplikasi yang harus hidup di latar hanya untuk mengatur warna.

Yang dikorbankan: tanpa konverter bawaan, kualitas keluaran kembali ditentukan oleh jack di perangkatmu, persis seperti HyperX Cloud Stinger 2 Core di daftar ini — jack depan casing yang berisik akan terdengar sebagai desis. Pemrosesan surround pun harus datang dari software di sisi PC.

Yang perlu kamu periksa: kalau sebagian besar waktumu dihabiskan mendengarkan musik dan bukan bermain, headphone khusus akan memberi lebih banyak untuk uang yang sama — pilihannya ada di headphone terbaik untuk coding dan fokus kerja .

Kelebihan
  • Jack 3,5mm bekerja di PC, konsol, dan ponsel tanpa adaptor
  • Tanpa lampu RGB, tidak ada aplikasi yang harus hidup hanya untuk mengatur warna
  • Harganya jauh di bawah Delta S yang membawa konverternya sendiri
Kekurangan
  • Tidak ada DAC di dalam headset; kualitas keluaran kembali ditentukan jack perangkatmu
  • Pemrosesan surround harus datang dari software di sisi PC, bukan dari headsetnya
  • Tidak ada jalur USB maupun mode nirkabel
ASUS ROG Delta S Core Gaming Headset
Kisaran Rp1,6jt – Rp1,7jt 1 terjual Toko official
Cek harga di Shopee Harga per 4 September 2026, dapat berubah.

Sony INZONE H9 II Wireless Noise Cancelling Gaming Headset

Satu-satunya di daftar ini yang menyelesaikan ruangan berisik, bukan cuma arah suara Wireless 2.4GHzPeredam bising aktif360 Spatial Sound
Sony INZONE H9 II Wireless Noise Cancelling Gaming Headset

Peredam bising aktifnya menyelesaikan masalah yang tidak disentuh headset gaming lain di daftar ini.

INZONE H9 II adalah headset gaming yang membawa teknologi peredam bising aktif dari lini headphone perjalanan. Itu menyelesaikan masalah yang berbeda dari surround: bukan menempatkan arah suara, melainkan menghilangkan derau tetap di ruanganmu — pendingin udara, kipas komputer, lalu lintas di luar jendela.

Konsekuensinya masuk akal untuk sebagian orang saja. Peredam bising menambah bobot, harga, dan satu sirkuit lagi yang memakan baterai, dan ia tidak membuatmu lebih akurat menebak arah langkah. Untuk pemain kompetitif di kamar yang sudah tenang, uang itu tidak menghasilkan apa-apa.

Yang perlu kamu ukur: berapa jam sehari kamu bermain di ruangan yang benar-benar berisik. Kalau jawabannya sedikit, Razer BlackShark V2 Pro di daftar ini memberi soundstage yang lebih relevan dengan harga lebih rendah. Kalau kebutuhanmu sebenarnya untuk kerja dan rapat, bukan main game, daftarnya ada di headset noise cancelling terbaik .

Kelebihan
  • Peredam bising aktifnya menghapus derau tetap: pendingin udara, kipas, lalu lintas
  • Menyelesaikan masalah ruangan berisik yang tidak disentuh headset lain di daftar ini
  • Teknologi peredamnya diturunkan dari lini headphone perjalanan Sony
Kekurangan
  • Peredam bising menambah bobot, harga, dan satu sirkuit lagi yang memakan baterai
  • Tidak membuatmu lebih akurat menebak arah langkah
  • Di kamar yang sudah tenang, selisih harganya tidak menghasilkan apa-apa
Sony INZONE H9 II Wireless Noise Cancelling Gaming Headset
Kisaran Rp5jt – Rp5,5jt 5 6 terjual Toko official
Cek harga di Shopee Harga per 4 September 2026, dapat berubah.

SteelSeries Arctis Nova Pro Wireless Gaming Headset

Puncak daftar ini, dengan baterai cadangan yang bisa ditukar tanpa berhenti main Wireless 2.4GHzBaterai hot-swapPeredam bising aktifBase station
SteelSeries Arctis Nova Pro Wireless Gaming Headset

Sistem dua baterainya menghapus satu-satunya kelemahan struktural headset wireless: harus berhenti untuk mengisi daya.

Arctis Nova Pro Wireless dijual bersama base station yang mengisi baterai kedua sementara baterai pertama dipakai. Ketika yang terpasang habis, keduanya ditukar dan permainan tidak berhenti. Itu jawaban paling langsung untuk kelemahan yang dimiliki setiap headset wireless lain di daftar ini.

Base station itu juga membawa konverter dan pengatur sendiri, dan bisa tersambung ke dua sumber sekaligus sehingga PC dan konsol tidak perlu dicolok bergantian.

Yang dikorbankan: harganya berlipat dari kelas menengah di daftar ini, dan sebagian besar uang itu dibayarkan untuk kenyamanan sistem, bukan untuk kemampuan menempatkan arah suara. Peredam bising aktifnya juga tidak sekuat headphone perjalanan khusus.

Yang perlu kamu hitung: berapa kali dalam sebulan kamu benar-benar kehabisan baterai di tengah sesi. Kalau jawabannya jarang, Logitech G Pro X Wireless atau Razer BlackShark V2 Pro di daftar ini memberi hampir seluruh pengalamannya dengan selisih harga yang besar.

Kelebihan
  • Baterai kedua diisi di base station sementara yang pertama dipakai, jadi main tidak berhenti
  • Base station membawa konverter dan pengaturnya sendiri
  • Tersambung ke dua sumber sekaligus, PC dan konsol tidak perlu dicolok bergantian
Kekurangan
  • Harganya berlipat dari kelas menengah di daftar ini
  • Sebagian besar uangnya dibayar untuk kenyamanan sistem, bukan untuk menempatkan arah suara
  • Peredam bising aktifnya tidak sekuat headphone perjalanan khusus
SteelSeries Arctis Nova Pro Wireless Gaming Headset
Kisaran Rp7jt – Rp7,5jt 5 10 terjual Toko official
Cek harga di Shopee Harga per 3 September 2026, dapat berubah.

Perbandingan lengkap

ProdukKisaranRatingTerjualTokoDipakai sendiriTautan
Fantech Sonata MH90 Gaming HeadsetRp600rb – Rp699rb 4.911,000OfficialKurasiCek harga
Rexus Thundervox HX9 Gaming Headset 7.1Rp250rb – Rp299rb 4.898,000OfficialKurasiCek harga
Redragon Zeus H510 LIT Gaming HeadsetRp450rb – Rp499rb 4.8484OfficialKurasiCek harga
HyperX Cloud Stinger 2 Core Gaming HeadsetRp600rb – Rp699rb 540Star sellerKurasiCek harga
HyperX Cloud Alpha 2 Wireless Gaming HeadsetRp4,5jt – Rp5jt 518Star sellerKurasiCek harga
Logitech G Pro X 2 Lightspeed Wireless Gaming HeadsetRp3jt – Rp3,5jt 516Star sellerKurasiCek harga
Razer BlackShark V2 Pro Wireless Gaming HeadsetRp4jt – Rp4,5jt——OfficialKurasiCek harga
ASUS ROG Delta S Core Gaming HeadsetRp1,6jt – Rp1,7jt—1OfficialKurasiCek harga
Sony INZONE H9 II Wireless Noise Cancelling Gaming HeadsetRp5jt – Rp5,5jt 56OfficialKurasiCek harga
SteelSeries Arctis Nova Pro Wireless Gaming HeadsetRp7jt – Rp7,5jt 510OfficialKurasiCek harga

Yang tidak saya rekomendasikan dan kenapa

Headset yang menjual angka 7.1 sebagai fitur utamanya

Kalau hal pertama yang ditulis di judul listing adalah angka surround, biasanya tidak banyak lagi yang bisa dijual. Pemrosesan itu gratis untuk ditambahkan pembuatnya dan tidak memberi tahu apa pun tentang driver yang ada di dalamnya.

Headset USB-only kalau kamu berpindah antar perangkat

Sambungan USB memang membawa konverter sendiri, tapi ia juga mengunci. Begitu kamu duduk di depan konsol atau ingin memakainya dengan ponsel, headset itu berhenti berguna. Pilihan dengan kabel 3,5mm menyelesaikan hal yang sama dengan lebih sedikit batasan.

Bantalan kulit sintetis murah untuk sesi panjang di ruangan panas

Kulit sintetis di kelas bawah menahan panas dan mengelupas dalam hitungan bulan. Kalau ruanganmu tidak berpendingin dan sesimu panjang, bantalan kain seperti pada Razer BlackShark V2 Pro adalah pertukaran yang lebih masuk akal daripada isolasi tambahan.

Membeli headset baru padahal masalahnya di pengaturan suara

Sebelum menambah anggaran, matikan efek peningkat bass di driver audio dan pengaturan dalam game, lalu turunkan bass. Suara langkah yang hilang paling sering tertutup dentuman, bukan karena headsetnya kurang mahal.

Headset gaming untuk rapat kerja seharian

Bodi besar, mikrofon boom yang menonjol, dan lampu di earcup adalah pertukaran yang benar untuk bermain dan salah untuk bekerja. Untuk rapat daring, daftarnya ada di headset noise cancelling terbaik atau TWS terbaik 500 ribuan untuk meeting .

Pertanyaan yang sering muncul

Surround virtual benar-benar membantu di game FPS?

Kadang membantu, kadang justru mengganggu. Pemrosesan itu melebarkan ruang suara tapi juga bisa mengaburkan rentang tengah tempat suara langkah berada. Uji dengan menyalakan dan mematikannya di game yang sama, lalu pertahankan yang membuat arah suara lebih mudah ditebak.

Wireless bikin delay?

Dongle 2,4GHz seperti pada Logitech G Pro X 2 Lightspeed dan Razer BlackShark V2 Pro tidak menghasilkan jeda yang terasa dalam permainan. Yang menghasilkan jeda adalah Bluetooth, dan itu sebabnya headset gaming wireless hampir selalu menyertakan dongle sendiri.

Headset gaming bagus untuk mendengarkan musik?

Sebagian besar disetel dengan bass besar dan rentang tengah yang ditonjolkan untuk kebutuhan permainan, dan setelan itu terdengar berlebihan pada musik. Kalau musik dan fokus kerja adalah pemakaian utamamu, headphone open back terbaik memberi soundstage lebih luas dengan uang yang sama.

Mikrofonnya cukup untuk merekam podcast?

Cukup untuk berbicara dengan rekan setim, tidak cukup untuk rekaman yang akan didengarkan orang lain berulang kali. Mikrofon boom headset diletakkan dekat mulut untuk menolak suara ruangan, bukan untuk menangkap suara dengan detail. Untuk rekaman, mulai dari mikrofon USB terbaik .

Bantalan kain atau kulit sintetis?

Kain lebih adem dan lebih tahan lama, kulit sintetis mengisolasi suara ruangan lebih baik. Pilih berdasarkan suhu ruanganmu dan seberapa berisik sekitarmu, bukan berdasarkan yang terlihat lebih mahal.

Kesimpulan

Anggaran paling ketat, hanya untuk PC — Rexus Thundervox HX9, satu-satunya di daftar ini yang membawa kartu suara USB sendiri, dengan catatan mode 7.1-nya sering lebih baik dimatikan.

Kelas 400 ribuan yang ringan dan bisa dipindah — Redragon Zeus H510 LIT, berkabel 3,5mm dengan driver 53mm dan boom mic lepas-pasang.

Butuh kontrol volume dan mute di kabel — Fantech Sonata MH90, dengan catatan harganya sudah sejajar HyperX Cloud Stinger 2 Core.

Kelas menengah, prioritas kenyamanan — HyperX Cloud Stinger 2 Core karena bobotnya paling rendah di kelasnya.

Nirkabel tanpa urusan jack — HyperX Cloud Alpha 2 Wireless, dengan catatan harganya sudah di kelas atas daftar ini dan pengatur bass fisiknya hilang.

Sering berbicara dengan rekan setim di PC — Logitech G Pro X 2 Lightspeed, karena pemrosesan mikrofonnya bekerja di sisi yang didengar orang lain.

Bermain kompetitif di ruangan yang sudah tenang — Razer BlackShark V2 Pro.

Berpindah-pindah perangkat lewat jack 3,5mm — ASUS ROG Delta S Core, tanpa DAC dan tanpa lampu.

Ruangan berisik dan butuh diam — Sony INZONE H9 II.

Tidak ingin berhenti main untuk mengisi daya — SteelSeries Arctis Nova Pro Wireless, dengan kesadaran bahwa sebagian besar selisih harganya dibayarkan untuk kenyamanan sistemnya.

Baca juga

Artikel ini diperiksa ulang tiap tiga bulan: tautan mati diganti, kisaran harga diperbarui, dan produk yang sudah tidak dijual dikeluarkan dari daftar. Terakhir diverifikasi 14 Mei 2025.